Kontradiksi bekerja di MNC

February 17th, 2007 by arip-muttaqien

Beberapa
hari lalu ketika aku sedang mengikuti UI Career Expo (semacam program
rekrutment dari berbagai perusahaan di kampus). Saat itu aku berada di depan
stand Total E&P Indonesie dan aku sedang mengisi formulir lamaran kerja untuk
dikumpulkan ke Total E&P. Tiba-tiba, ada yang mengagetkanku. Ternyata ****, “Oh..begini ya…ternyata lu pro sama MNC”.

Tentu
saja aku kaget. Emang orang pikir MNC itu buruk? Kesan yang aku dapat dari
omongan **** bahwa aku adalah Pro MNC dan MNC itu buruk dan harus dijauhi.

Sebegitu
sempitkah pemikiran tentang MNC?

 

Aku
akan mencoba menganalisis dari sudut pandang luas. Btw, pertanyaan ini juga
muncul saat aku krmn interview dengan ExxonMobil (15 Februari 2007 di daerah
Semanggi).

 

Multi
National Corporation (MNC) atau Trans National Corporation (TNC) adalah
perusahaan yang memiliki basis di suatu negara dan memiliki jaringan ke negara
lain. Biasanya MNC/TNC menggurita di seluruh dunia.

 

Berdasarkan
laporan yang dikeluarkan United Nation Conference on Trade and Development
(UNCTAD) tahun 2005. Laporan ini membagi MNC dalam dua kategori, yaitu
finansial dan non finansial dengan mengurutkan MNC dari yang terbesar dalam hal
jumlah aset mereka yang berada di luar negara asal (home economy country), bbrp MNC dalam bidang non finansial adalah :

 (angka
total aset adalah dalam US $ milyar dan jumlah pekerja adalah orang)

  1. General
         Electric (AS); bidang elektronik; jumlah aset di luar negeri (selain AS)
         adalah US $ 258 milyar; total aset adalah US $ 647 milyar; total penjualan
         adalah US $ 134 milyar; total pekerja adalah 305.000 orang
  2. Vodafone
         Group(United Kingdom); telekomunikasi; US $ 243 milyar; US $ 262 milyar;
         US $ 59 milyar; 60.109
  3. Ford
         (AS); otomotif; US $ 173 milyar; US $ 304 milyar; US $ 164 milyar; 327.531
  4. General
         Motor (AS); otomotif; US $ 154 milyar; US $ 448 milyar; US $ 185 milyar;
         294.000
  5. British
         Petroleum (AS); minyak; US $ 141 milyar; US $ 177 milyar; US $ 232 milyar;
         103.700
  6. ExxonMobil
         (AS); minyak; 116; 174; 237; 88.300
  7. Royal
         Dutch Shell (UK/Belanda); minyak; 112; 168; 201; 119.000
  8. Toyota
         (Jepang); otomotif; 94; 189; 202; 119.000
  9. Total
         (Prancis); minyak; 88; 101; 118; 110.783
  10. France
         Telecom (Prancis); telekomunikasi; 81; 126; 52; 218.523

17. Siemens (Jerman); elektronik; 58; 98; 84; 417.000
19. Honda (Jepang); otomotif; 53; 78; 70; 131.600

21. Chevron (AS); minyak; 51; 81; 120;61.533

23. Pfizer (AS); farmasi; 49; 117; 45; 122.000

25. BMW (Jerman); otomotif; 45; 72; 47; 104.342

26. Eni Group (Italia); minyak; 44; 85; 58; 76.521

28. Daimler Chrysler (Jerman/AS); otomotif; 42; 255; 154;
362.063

29. Fiat (Italia); otomotif; 42;79; 53; 162.237

30. Nestle (Swiss); makanan dan minuman; 41; 72; 65;
253.000

31. IBM (AS); elektronik; 41; 104; 89; 319.273

32. Conoco Phillips (AS); minyak; 37; 82; 90; 39.000

33. Sony (Jepang); elektronik; 35; 85; 65; 162.000

34. Carrefour (Prancis); retailer; 34; 49; 79; 419.040

35. Wal Mar (AS); retailer; 34; 104; 256; 1.500.000

38. Protect and Gambler (AS); consumer goods; 33; 57; 51;
110.000

40. Hewlett Packard (AS); elektronik; 32; 75; 73; 142.000

43. Unilever (Inggris/Belanda); consumer goods; 29; 48;
48; 234.000

46. Lafarge (Prancis); non metalic product; 28; 31; 15;
75.338

47. Repsol (Spanyol); minyak; 28; 48; 41; 30.644

57. Renault (Prancis); otomotif; 22; 71; 42; 130.740

64. Bayer (Jerman); farmasi; 19; 47; 32; 115.400

66. Singtel (Singapura); telekomunikasi; 18; 22; 7;
19.081

69. Nokia (Finlandia); telekomunikasi; 17; 29; 37; 51.359

72. Petronas (Malaysia); minyak; 16; 53; 26; 30.634

73. McDonalds (AS); retailer; 16; 26; 17; 418.000

91. Holcim (Swiss); non metalic product; 13; 20; 10;
48.200

97. Motorola (AS); telekomunikasi; 13; 32; 27; 88.000

99. Samsung (Korea); elektronik; 12; 57; 54; 55.397

100. International Paper Company (AS); kertas; 12; 36;
25; 82.800

 

Untuk
kategori MNC dalam bidang finansial adalah :

  1. Citigroup
         (AS); total aset adalah US $ 1.264 milyar; total pekerja adalah 275.000
  2. UBS
         (Swiss); 1.221; 65.929
  3. Allianz
         (Jerman); 1.179; 173.750
  4. Mizuho
         Financial (Jepang); 1.115; 27.900
  5. Credit
         Agircole (Prancis); 1.103; 63.140
  6. HSBC
         (Inggris); 1.034; 218.000
  7. Deutche
         Bank (Jerman); 1.013; 67.682
  8. Mitsubishi
         Tokyo Financial Group (Jepang); 995; 37.000
  9. BNP
         Paribas (Prancis); 986; 89.071
  10. ING
         Group (Belanda); 982; 114.344
  11. Sumitomo
         (Jepang); 968; 22.431

16. JP Morgan (AS); 770; 93.453

19. ABN AMRO (Belanda); 706; 97.000

21. AIG Group (AS); 678; 86.000

26. Axa Group (Prancis); 567; 117.113

29. Merrill Lynch (AS); 496; 48.100

34. Bank of China (China); 443; 189

41. Goldman Sachs (AS); 404; 19.476

50. Gruppo Assicurazioni Generali (Italia); 327; 60.638

 

Mungkin
beberapa nama di atas adalah nama asing dan baru pertamakali di dengar. Atau
ada nama yang sudah familiar dengan telinga kita.

 

Data
yang digunakan dalam Laporan UNCTAD adalah data tahun 2003. Maka coba kita
bandingkan dengan kondisi Indonesia pada tahun 2003. Realisasi pendapatan APBN
tahun 2003 adalah Rp 341,4 triliun (16,7 persen dari produk domestik bruto).
Produk Domestik Bruto Indonesia pada tahun 2003 sekitar Rp 2.050 triliun). Data
ini didapatkan dari Nota Keuangan APBN 2006. Meskipun kita udah tahun 2007,
tapi data tersebut bisa dipakai karena kita hanya memerlukan data tahun 2003.

 

Dengan
asumsi kurs 1 dollar AS = Rp 8.800 (rata-rata tahun 2003), maka :

Pendapatan
APBN tahun 2003 = US $ 38,8 milyar

Produk
Domestik Bruto Indonesia tahun 2003 = US $ 253,7 milyar

 

Wow….ternyata
pendapatan APBN Indonesia tahun 2003 hampir sama dengan total penjualan Nokia
(Finlandia, peringkat ke-69) yaitu US $ 37 milyar.

Produk
domestik bruto Indonesia pada tahun 2003 hampir sama dengan total aset yang
dimiliki Daimler Chrysler (Jerman/AS) yaitu US $ 255 milyar dan bahkan masih
kalah dengan total aset yang dimiliki peringkat ke-50 perusahaan finansial
(Gruppo Assicurazioni Generali).

 

Memang
sangat kontradiktif. Namun begitulah kenyataan.

 

Ada
catatan nih, laporan dari World Institute fo Development and Economic Research
(WIDER) yang dikeluarkan pada 5 Desember 2006 menyebutkan bahwa :

Dua persen orang dewasa di dunia
menguasai lebih dari separuh kekayaan dunia

Satu persen orang dewasa terkaya di
dunia menguasai 40 persen kekayaan dunia (pada tahun 2000)

Sepuluh persen orang dewasa terkaya
di dunia menguasai 85 persen kekayaan dunia

Kontrasnya, separuh penduduk dewasa dunia
terbawah dalam hal kekayaan hanya menguasai satu persen kekayaan dunia

Separuh penduduk dewasa dunia teratas
dalam kekayaan memiliki rata-rata aset senilai US $ 2,200

Sepuluh persen penduduk dewasa terkaya
di dunia memiliki rata-rata aset senilai US $ 61,000

Satu persen penduduk dewasa terkaya
di dunia memiliki rata-rata aset senilai lebih dari US $ 100,000. Jumlahnya
sekitar 37 juta jiwa

 

Kontras?
Ya..itulah kenyataan saat ini.

 

Ada
yang bilang hidup adalah persaingan dan seleksi alam. Jika menggunakan analogi
berpikir demikian, maka memiliki kekayaan berapun adalah sah-sah saja.
Kemiskinan adalah hal yang pasti terjadi.

 

Namun,
apakah pemikiran demikian dibiarkan? Jika mengikuti hukum alam, maka akan
terjadi penindasan. Jika tidak ada regulator (dalam hal ini adalah pemerintah),
maka akan terjadi ketimpangan yang lebih luar biasa.

 

Namun,
apakah mencari kekayaan dilarang? Apakah bekerja di MNC di larang? Apakah kita
mesti menghentikan itu semua dengan melarang MNC masuk ke Indonesia?

 

Tidak
semudah itu. Itu adalah berpikir dengan jalan pintas. Menyuruh MNC hengkang
dari Indonesia sama saja mendorong kita untuk bunuh diri. Coba kita pikirkan,
berapa aset mereka yang di Indonesia. Berapa banyak tenaga kerja yang sudah
terserap di Indonesia. Seberapa besar multiplier effect yang telah ditimbulkan
mereka? Seberapa besar konstribusi mereka terhadap pertumbuhan ekonomi dan
peningkatan kesejahteraan masyarakat?

 

Sikap
Anti MNC, menurutku sangat ironis. Aku jadi heran. SEBERAPA BANYAK BUKU YANG
TELAH MEREKA BACA SEHINGGA MEREKA BILANG DEMIKIAN????? Aku pikir mereka juga
baru ikut diskusi berapa kali, buku yang dibaca juga baru (ah…) paling-paling
juga dikit. Cetek..pikirannya kadang-kadang.

 

Tolonglah,
baca buku dan cari informasi lebih banyak!!!!

 

Jangan
langsung bilang “Aku Anti MNC”. Padahal dalam keseharian mereka tidak sadar
telah terjebak dalam jeratan kapitalisme.

 

Contohnya
begini, banyak dari mereka juga suka menonton sepak bola, Liga Inggris, Liga
Spanyol, Liga Italia, Champion dll. Padahal bisnis sepak bola juga tidak bisa
dilepaskan dari jeratan kapitalisme. Selain sebagai ajang kelincahan mengolah
bola, tidak disangsingkan, memang ada peluang bisnis dalam sepak bola.

 

Nah,
mereka berarti ga’ konsisten!

 

Ada
lagi, Anda tentu saja tahu bahwa sebagian besar sepeda motor di Indonesia
mereknya Honda, Suzuki dan Yamaha. Perusahaan itu khan MNC juga. Secara
langsung sebagian besar penduduk Indonesia nyatanya juga pemakai sepeda motor
tersebut.

 

Aku
sering bilang, “Berpikirlah lebih luas”. Jangan memandang suatu permasalahan
dari satu sudut pandang saja.

 

Tolong
lebih di jelaskan kalau menjelaskan tentang permasalahan. Memang ada sebagian
MNC di pertambangan yang kontroversial. Namun tidak bisa digeneralisir bahwa
semua MNC itu buruk. Tolonglah berpikir
lebih luas!

 

Kalau
berbicara masalah Freeport, ExxonMobil dan Newmont Minahasa Raya (NMR), memang
ada bbrp kejanggalan dari mereka.

 

Menurut
aku kunci permasalahan yang perlu diatur adalah masalah regulasinya. Disinilah
diperlukan peran pemerintah sebagai penengah. Saya jadi tertawa jika ada yang
bilang mekanisme pasar adalah segala-galanya. Ga’ mesti dan tidak juga. Pada
suatu saat tetap diperlukan peran pemerintah sebagai regulator (tapi bukan
sebagai pemain).

 

Jika
dalam realita terdapat kejanggalan dalam pemerintah, maka itu adalah permasalahan
oknum dan permasalahan sistemik yang sudah sedemikian meluas, ex : korupsi,
birokrasi de el el.

 

Bekerja
di MNC adalah dosa besar!

Saya
tidak sependapat dengan pendapat mereka. Coba tolong pisahkan antara
permasalahan yang ada, baru ngomong!

 

 

Congratulation to Muhammad Yunus and Grameen Bank

October 15th, 2006 by arip-muttaqien

Selamat kepada pemenang Nobel Perdamaian 2006, Muhammad Yunus dan Grameen Bank. Muhammad Yunus memang pantas menerima nobel perdamaian atas dedikasinya menciptakan perdamaian mulai dari akarnya, yaitu memberantas kemiskinan.
Kemiskinan adalah musuh bersama dan akar dari semua masalah. Kemiskinan, kesenjangan sosial dan ketidakadilan adalah akar masalah dari terorisme.
Selama ini pemenang nobel perdamaian kebanyakan memang mereka yang berkutat upaya mencipatakan perdamaian secara eksplisit, seperti akibat perang, perang saudara, dll.
Muhammad Yunus adalah tokoh kelahiran Chittagong (Bangladesh) tahun 1940. Dia merintis Grameen Bank pada tahun 1974, ketika dia menjabat sebagai guru besar ekonomi di Univ Chittagong. Hal yang membuatnya terjun untuk memerangi kemiskinan adalah karena melihat ‘ironi’ yang terjadi di masyarakat. Sbg akademisi, dia merasa berdosa, “Ketika banyak orang sedang sekarat di jalan-jalan karena kelaparan, saya justru sedang mengajarkan teori-teori ekonomi yang elegan. Saya mulai membenci diri sendiri karena bersikap arogan dan menganggap diri saya bisa mengatasi masalah kemiskinan. Kami professor universitas semuanya pintar, tetapi kami sama sekali tidak tahu mengenai kemiskinan di sekitar kami. Sejak itu saya memutuskan kaum papa harus menjadi guru saya”
Grameen Bank adalah sebuah lembaga keuangan mirko (microfinancial) yang memberikan kredit kepada orang miskin. Definisi Grameen Bank diambil dari bahasa Bengali yang artinya Bank Desa atau Bank Pedesaan.
Apa bedanya dg lembaga kredit lain seperti perbankan? Grameen Bank tidak mensyaratkan agunan/jaminan/collateral seperti bank pada umumnya. Hal ini tentu saja memberikan kemudahan kepada orang miskin. Muhammad Yunus memiliki keyakinan bahwa orang miskin harus diberi kesempatan. Mereka bisa mengurus dirinya sendiri asalkan diberikan kredit.
Prinsip yang diterapkan pada perbankan pada umumnya adalah, semakin banyak yang Anda punya maka semakin banyak yang Anda dapatkan. Jika Anda tidak punya sedikitpun maka Anda tidak akan mendapat apapun. Jadi, mereka yang memiliki jaminan besar akan mendapatkan kredit dg jumlah yg besar.
Bagaimana dg Grameen Bank? Grameen Bank berangkat dari keyakinan bahwa kredit seharusnya diterima sebagai bagian dari hak asasi manusia. Seseorang yg tidak memiliki kekayaan apapun justru dialah yang mendapatkan prioritas untuk mendapatkan pinjaman.
Sasaran bank pada umumnya adalah orang-orang kaya. Tujuannya adalah memaksimalkan keuntungan.
Sasaran Grameen Bank adalah memberikan layanan finansial pada orang miskin, khususnya perempuan.
Bank pada umumnya banyak yang berpusat di perkotaan. Grameen Bank biasanya berada di pedesaan karena desa adalah kantong kemiskinan. Grameen Bank justru mendekat kepada masyarakat miskin. Di Bangladesh, sebanyak 13.866 staf Grameen Bank bertemu dengan 4,63 juta peminjam di depan pintu rumah yang tersebar di 52.829 desa.
Pembayaran di bank pada umumnya rumit dan bunganya berlipat ganda hingga mencekik leher. Pembayaran di Grameen Bank sangat sederhana, bisa mingguan bahkan harian. Bunga yang ditetapkan juga ringan. Namun Grameen Bank berbeda dengan tengkulak. Tengkulak juga mencekik rakyat. Grameen Bank tidak karena bunga yang dikenakan tidak tinggi.

Grameen Bank sudah terbukti mampu memberantas kemiskinan di Bangladesh. Kini, Grameen Bank memiliki 2.226 cabang di 71.371 desa dengan 94 persen modal dimiliki oleh orang miskin. Sebanyak 96 persen nasabahnya adalah kaum perempuan.

Mestinya Indonesia belajar dari Muhammad Yunus dan Grameen Bank. Selama ini isu kemiskinan hanya menjadi isu jualan publik. Pemerintah cenderung berada dalam batas wacana. Program kemiskinan hanya menjadikan orang miskin sbg objek, bukan subjek. Jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada dibawah Garis Kemiskinan) di Indonesia pada bulan Maret 2006 sebesar 39,05 juta (17,75 persen). Dibandingkan dengan penduduk miskin pada Februari 2005 yang berjumlah 35,10 juta (15,97 persen), berarti jumlah penduduk miskin meningkat sebesar 3,95 juta.
Berbicara masalah Grameen Bank, aku jadi ingat dengan sebuah tulisan Grameen Bank pada sebuah diskusi tentang kemiskinan, pertengahan tahun 2005. Tulisan tsb menganalisis tentang adaptasi Grameen Bank di Indonesia.
Menurutku kita tidak usah malu-malu mengadopsi Grameen Bank. Sistem ini justru skrg banyak diterapkan oleh berbagai negara. Bank Dunia yang tadinya memandang sebelah mata, kini memandang mengadopsi gagasan kredit mikro.
Pemberantasan kemiskinan yang dilakukan Muhammad Yunus dan Grameen Bank adalah bukti konkret. Selama ini kemiskinan sekedar menjadi komoditas berbagai lembaga internasional, seperti Bank Dunia, UNDP, IMF, ADB atao se-abreg lembaga lainnya.
Langkah yang dilakukan Muhammad Yunus dengan Grameen Bank dapat menjadi contoh bagi kita semua.
Kapan negara kita mau mencontoh Grameen Bank?

Mahasiswa dan pengemis

October 8th, 2006 by arip-muttaqien

Aku ga’ jadi pulang tanggal 17
Okt. Tadi aku dari Bogor, tiket kreta untuk tgl 17 Okt udah habis smuanya.
Jadinya aku tetep pulang tgl 20 Okt. Ya udah, ga’ apa2. Tapi aku harus
memanfaatkan waktu luangku di sini dg kegiatan yg berguna, terutama menulis.
Aku butuh duit untuk persiapan masa depan!!!!

 Tadi aku naek KRL. Di KRL aku liat pengemis, pengamen dan
segala macam orang yg nasibnya kurang beruntungt. Aku jadi berpikir, apakah
hidup ini memang seleksi alam? Apakah harus ada orang yang berada di bawah dan
orang yang berada diatas. Harus ada orang miskin dan orang kaya? Harus ada
orang yang sehat walafiat dan orang cacat yg mengais rezeki dg seadanya? Apakah
harus ada orang tamak dan orang rakus????

 Lalu ketika terdapat program anti kemiskinan, program
kesejahteraan atau program apapun, apakah tetap harus ada orang miskin? Apakah
miskin adalah sebuah keniscayaan? Apakah memang harus ada jurang antara si Kaya
dan si Miskin?

 Atau negara ini sudah salah urus? Padahal dalam konstitusi
dasar, jelas2 tercantum, “…fakir miskin dan orang terlantar dipelihara oleh
negara…” apakah negara ini sudah melupakan kewajiban mereka? Kalo begitu, untuk
apa ada negara Indonesia jika keadaannya seperti ini?

 Aku jadi teringat dg lagu ‘tanah air’ :

 

Tanah air ku
tidak kulupakan

Kan terkenang
selama hidupku

Biarpun saya
pergi jauh

Tidak kan
hilang dari kalbu

Tanahku yang
kucintai

Engkau
kuhargai

Walaupun banyak
negeri kujalani

Yang masyur
permai dikata orang

Tetapi aku
dan rumahku

Disanalah ku
rasa senang

Tanahku yang
ku tak kulupakan

Engkau
kubanggakan

Tanah air ku
tidak kulupakan

Kan terkenang
selama hidupku

Biarpun saya
pergi jauh

Tidak kan
hilang dari kalbu

Tanahku yang
kucintai

Engkau
kuhargai

 

 Ini adalah lagu yang tiap hari kedungarkan. Aku jadi suka
dengan lagu ini. Dari lagu ini memang dapat diambil kesimpulan meskipun bahwa
tanah air Indonesia memang adalah darah daging. Aku sendiri mencintai tanah
air, Indonesia. Aku lahir dan ingin mati di Indonesia (seperti yang kutulis di
Friendster). Meskipun negeri ini sudah bobrok namun aku tetap mencintainya.
Justru dengan kebobrokannya aku berniat ingin merubahnya. Ini adalah salah satu
cita2 hidupku. Aku harus mampu membuat perubahan di negeri ini. Tentu saja
perubahan memang tidak bisa dilakukan hanya oleh satu orang. Negeri ini tidak
butuh SUPERMAN, namun Indonesia butuh SUPERTIM. Kita harus mampu bekerja dalam
TIM yang mampu memberikan perubahan ke arah yang lebih baek. Dengan adanya TIM
yang kuat pula, maka individu-individu yang sudah unggul tinggal digabungkan
keunggulannya.

 Indonesia memang banyak memiliki prestasi individual. Namun
mengapa negeri ini masih dalam kubangan kemiskinan, kemelaratan, korupsi dan
segela keburukan yang jika kusebutkan satu persatu di sini pasti akan membuat
hati pedih (maksudku adalah ‘hati nurani’).

 Kmrn aku buka FS, begitu di bagian ‘home’ mataku tertuju
pada tulisan ‘update blog’ terutama pada blog salah satu temenku, yaitu Nia,
temenku seangkatan. Sempet kubaca, kurang lebih begini, “…setelah
berkecimpung dalam kegiatan kemahasiswaan, sekarang aku sudah apatis dengan
kegiatan kemahasiswaan, begitu pula ketika mendengar mars teknik dan yel
teknik…” Aku ga’ hapal dengan isi lengkapnya.

 Apakah kegiatan kemahasiswaan memang sudah berubah. Hanya
sekedar menjalankan kegiatan dan tahun ke tahun. Lalu apa bedanya dengan
kegiatan di SMU. Ketika aku baru masuk, aku langsung dicekoki dengan idealisme
bahwa mahasiswa memiliki peran yang penting dalam perubahan bangsa. Demikian
juga ketika aku sudah menjadi senior. Aku senatiasa mencekoki kepada mahasiswa
baru tentang pentingnya mahasiswa dalam perubahan bangsa. Kmrn waktu PPAM teknik, aku masih ingat kalo aku merecoki maba dengan nilai-nilai ke-IKM FTUI-an. Apakah hal itu masih relevan dg kondisi sekarang?

 Namun apakah mahasiswa skrg masih spt yang sulu. Mahasiswa
sudah tidak memiliki peran yang signifikan dalam perubahan bangsa. Hal inilah
yang membuatku ingin cepat lulus dan memasuki dunia profesi. Aku ingin segera
memberikan yang terbaik untuk bangsa ini. Ketika dengan menjadi mahasiswa aku
merasa tidak sanggup untuk memberikan dampak positif terhadap masyarakat, lalu
buat apa menjadi mahasiswa yang hanya berteriak-teriak. Memang benar kalo kita
mesti usaha. Namun usaha sampai kapan? Sampai suara dan tenggorokan ini
kering?????

Blog di FS kadang2 aneh???

October 8th, 2006 by arip-muttaqien

Kenapa kok blog di FS kadang2 aneh? Kadang2 ga’ bisa dibuka, skrg bisa dibuka.
jadinya aku bikin blog juga di blospot.com, tapi juga belom diisi dg serius. Malez mindahin catatan harian dari laptop ke blog. Padahal tinggal mindahin doank…