Beberapa
hari lalu ketika aku sedang mengikuti UI Career Expo (semacam program
rekrutment dari berbagai perusahaan di kampus). Saat itu aku berada di depan
stand Total E&P Indonesie dan aku sedang mengisi formulir lamaran kerja untuk
dikumpulkan ke Total E&P. Tiba-tiba, ada yang mengagetkanku. Ternyata ****, “Oh..begini ya…ternyata lu pro sama MNC”.
Tentu
saja aku kaget. Emang orang pikir MNC itu buruk? Kesan yang aku dapat dari
omongan **** bahwa aku adalah Pro MNC dan MNC itu buruk dan harus dijauhi.
Sebegitu
sempitkah pemikiran tentang MNC?
Aku
akan mencoba menganalisis dari sudut pandang luas. Btw, pertanyaan ini juga
muncul saat aku krmn interview dengan ExxonMobil (15 Februari 2007 di daerah
Semanggi).
Multi
National Corporation (MNC) atau Trans National Corporation (TNC) adalah
perusahaan yang memiliki basis di suatu negara dan memiliki jaringan ke negara
lain. Biasanya MNC/TNC menggurita di seluruh dunia.
Berdasarkan
laporan yang dikeluarkan United Nation Conference on Trade and Development
(UNCTAD) tahun 2005. Laporan ini membagi MNC dalam dua kategori, yaitu
finansial dan non finansial dengan mengurutkan MNC dari yang terbesar dalam hal
jumlah aset mereka yang berada di luar negara asal (home economy country), bbrp MNC dalam bidang non finansial adalah :
(angka
total aset adalah dalam US $ milyar dan jumlah pekerja adalah orang)
- General
Electric (AS); bidang elektronik; jumlah aset di luar negeri (selain AS)
adalah US $ 258 milyar; total aset adalah US $ 647 milyar; total penjualan
adalah US $ 134 milyar; total pekerja adalah 305.000 orang
- Vodafone
Group(United Kingdom); telekomunikasi; US $ 243 milyar; US $ 262 milyar;
US $ 59 milyar; 60.109
- Ford
(AS); otomotif; US $ 173 milyar; US $ 304 milyar; US $ 164 milyar; 327.531
- General
Motor (AS); otomotif; US $ 154 milyar; US $ 448 milyar; US $ 185 milyar;
294.000
- British
Petroleum (AS); minyak; US $ 141 milyar; US $ 177 milyar; US $ 232 milyar;
103.700
- ExxonMobil
(AS); minyak; 116; 174; 237; 88.300
- Royal
Dutch Shell (UK/Belanda); minyak; 112; 168; 201; 119.000
- Toyota
(Jepang); otomotif; 94; 189; 202; 119.000
- Total
(Prancis); minyak; 88; 101; 118; 110.783
- France
Telecom (Prancis); telekomunikasi; 81; 126; 52; 218.523
17. Siemens (Jerman); elektronik; 58; 98; 84; 417.000
19. Honda (Jepang); otomotif; 53; 78; 70; 131.600
21. Chevron (AS); minyak; 51; 81; 120;61.533
23. Pfizer (AS); farmasi; 49; 117; 45; 122.000
25. BMW (Jerman); otomotif; 45; 72; 47; 104.342
26. Eni Group (Italia); minyak; 44; 85; 58; 76.521
28. Daimler Chrysler (Jerman/AS); otomotif; 42; 255; 154;
362.063
29. Fiat (Italia); otomotif; 42;79; 53; 162.237
30. Nestle (Swiss); makanan dan minuman; 41; 72; 65;
253.000
31. IBM (AS); elektronik; 41; 104; 89; 319.273
32. Conoco Phillips (AS); minyak; 37; 82; 90; 39.000
33. Sony (Jepang); elektronik; 35; 85; 65; 162.000
34. Carrefour (Prancis); retailer; 34; 49; 79; 419.040
35. Wal Mar (AS); retailer; 34; 104; 256; 1.500.000
38. Protect and Gambler (AS); consumer goods; 33; 57; 51;
110.000
40. Hewlett Packard (AS); elektronik; 32; 75; 73; 142.000
43. Unilever (Inggris/Belanda); consumer goods; 29; 48;
48; 234.000
46. Lafarge (Prancis); non metalic product; 28; 31; 15;
75.338
47. Repsol (Spanyol); minyak; 28; 48; 41; 30.644
57. Renault (Prancis); otomotif; 22; 71; 42; 130.740
64. Bayer (Jerman); farmasi; 19; 47; 32; 115.400
66. Singtel (Singapura); telekomunikasi; 18; 22; 7;
19.081
69. Nokia (Finlandia); telekomunikasi; 17; 29; 37; 51.359
72. Petronas (Malaysia); minyak; 16; 53; 26; 30.634
73. McDonalds (AS); retailer; 16; 26; 17; 418.000
91. Holcim (Swiss); non metalic product; 13; 20; 10;
48.200
97. Motorola (AS); telekomunikasi; 13; 32; 27; 88.000
99. Samsung (Korea); elektronik; 12; 57; 54; 55.397
100. International Paper Company (AS); kertas; 12; 36;
25; 82.800
Untuk
kategori MNC dalam bidang finansial adalah :
- Citigroup
(AS); total aset adalah US $ 1.264 milyar; total pekerja adalah 275.000
- UBS
(Swiss); 1.221; 65.929
- Allianz
(Jerman); 1.179; 173.750
- Mizuho
Financial (Jepang); 1.115; 27.900
- Credit
Agircole (Prancis); 1.103; 63.140
- HSBC
(Inggris); 1.034; 218.000
- Deutche
Bank (Jerman); 1.013; 67.682
- Mitsubishi
Tokyo Financial Group (Jepang); 995; 37.000
- BNP
Paribas (Prancis); 986; 89.071
- ING
Group (Belanda); 982; 114.344
- Sumitomo
(Jepang); 968; 22.431
16. JP Morgan (AS); 770; 93.453
19. ABN AMRO (Belanda); 706; 97.000
21. AIG Group (AS); 678; 86.000
26. Axa Group (Prancis); 567; 117.113
29. Merrill Lynch (AS); 496; 48.100
34. Bank of China (China); 443; 189
41. Goldman Sachs (AS); 404; 19.476
50. Gruppo Assicurazioni Generali (Italia); 327; 60.638
Mungkin
beberapa nama di atas adalah nama asing dan baru pertamakali di dengar. Atau
ada nama yang sudah familiar dengan telinga kita.
Data
yang digunakan dalam Laporan UNCTAD adalah data tahun 2003. Maka coba kita
bandingkan dengan kondisi Indonesia pada tahun 2003. Realisasi pendapatan APBN
tahun 2003 adalah Rp 341,4 triliun (16,7 persen dari produk domestik bruto).
Produk Domestik Bruto Indonesia pada tahun 2003 sekitar Rp 2.050 triliun). Data
ini didapatkan dari Nota Keuangan APBN 2006. Meskipun kita udah tahun 2007,
tapi data tersebut bisa dipakai karena kita hanya memerlukan data tahun 2003.
Dengan
asumsi kurs 1 dollar AS = Rp 8.800 (rata-rata tahun 2003), maka :
Pendapatan
APBN tahun 2003 = US $ 38,8 milyar
Produk
Domestik Bruto Indonesia tahun 2003 = US $ 253,7 milyar
Wow….ternyata
pendapatan APBN Indonesia tahun 2003 hampir sama dengan total penjualan Nokia
(Finlandia, peringkat ke-69) yaitu US $ 37 milyar.
Produk
domestik bruto Indonesia pada tahun 2003 hampir sama dengan total aset yang
dimiliki Daimler Chrysler (Jerman/AS) yaitu US $ 255 milyar dan bahkan masih
kalah dengan total aset yang dimiliki peringkat ke-50 perusahaan finansial
(Gruppo Assicurazioni Generali).
Memang
sangat kontradiktif. Namun begitulah kenyataan.
Ada
catatan nih, laporan dari World Institute fo Development and Economic Research
(WIDER) yang dikeluarkan pada 5 Desember 2006 menyebutkan bahwa :
- Dua persen orang dewasa di dunia
menguasai lebih dari separuh kekayaan dunia
- Satu persen orang dewasa terkaya di
dunia menguasai 40 persen kekayaan dunia (pada tahun 2000)
- Sepuluh persen orang dewasa terkaya
di dunia menguasai 85 persen kekayaan dunia
- Kontrasnya, separuh penduduk dewasa dunia
terbawah dalam hal kekayaan hanya menguasai satu persen kekayaan dunia
- Separuh penduduk dewasa dunia teratas
dalam kekayaan memiliki rata-rata aset senilai US $ 2,200
- Sepuluh persen penduduk dewasa terkaya
di dunia memiliki rata-rata aset senilai US $ 61,000
- Satu persen penduduk dewasa terkaya
di dunia memiliki rata-rata aset senilai lebih dari US $ 100,000. Jumlahnya
sekitar 37 juta jiwa
Kontras?
Ya..itulah kenyataan saat ini.
Ada
yang bilang hidup adalah persaingan dan seleksi alam. Jika menggunakan analogi
berpikir demikian, maka memiliki kekayaan berapun adalah sah-sah saja.
Kemiskinan adalah hal yang pasti terjadi.
Namun,
apakah pemikiran demikian dibiarkan? Jika mengikuti hukum alam, maka akan
terjadi penindasan. Jika tidak ada regulator (dalam hal ini adalah pemerintah),
maka akan terjadi ketimpangan yang lebih luar biasa.
Namun,
apakah mencari kekayaan dilarang? Apakah bekerja di MNC di larang? Apakah kita
mesti menghentikan itu semua dengan melarang MNC masuk ke Indonesia?
Tidak
semudah itu. Itu adalah berpikir dengan jalan pintas. Menyuruh MNC hengkang
dari Indonesia sama saja mendorong kita untuk bunuh diri. Coba kita pikirkan,
berapa aset mereka yang di Indonesia. Berapa banyak tenaga kerja yang sudah
terserap di Indonesia. Seberapa besar multiplier effect yang telah ditimbulkan
mereka? Seberapa besar konstribusi mereka terhadap pertumbuhan ekonomi dan
peningkatan kesejahteraan masyarakat?
Sikap
Anti MNC, menurutku sangat ironis. Aku jadi heran. SEBERAPA BANYAK BUKU YANG
TELAH MEREKA BACA SEHINGGA MEREKA BILANG DEMIKIAN????? Aku pikir mereka juga
baru ikut diskusi berapa kali, buku yang dibaca juga baru (ah…) paling-paling
juga dikit. Cetek..pikirannya kadang-kadang.
Tolonglah,
baca buku dan cari informasi lebih banyak!!!!
Jangan
langsung bilang “Aku Anti MNC”. Padahal dalam keseharian mereka tidak sadar
telah terjebak dalam jeratan kapitalisme.
Contohnya
begini, banyak dari mereka juga suka menonton sepak bola, Liga Inggris, Liga
Spanyol, Liga Italia, Champion dll. Padahal bisnis sepak bola juga tidak bisa
dilepaskan dari jeratan kapitalisme. Selain sebagai ajang kelincahan mengolah
bola, tidak disangsingkan, memang ada peluang bisnis dalam sepak bola.
Nah,
mereka berarti ga’ konsisten!
Ada
lagi, Anda tentu saja tahu bahwa sebagian besar sepeda motor di Indonesia
mereknya Honda, Suzuki dan Yamaha. Perusahaan itu khan MNC juga. Secara
langsung sebagian besar penduduk Indonesia nyatanya juga pemakai sepeda motor
tersebut.
Aku
sering bilang, “Berpikirlah lebih luas”. Jangan memandang suatu permasalahan
dari satu sudut pandang saja.
Tolong
lebih di jelaskan kalau menjelaskan tentang permasalahan. Memang ada sebagian
MNC di pertambangan yang kontroversial. Namun tidak bisa digeneralisir bahwa
semua MNC itu buruk. Tolonglah berpikir
lebih luas!
Kalau
berbicara masalah Freeport, ExxonMobil dan Newmont Minahasa Raya (NMR), memang
ada bbrp kejanggalan dari mereka.
Menurut
aku kunci permasalahan yang perlu diatur adalah masalah regulasinya. Disinilah
diperlukan peran pemerintah sebagai penengah. Saya jadi tertawa jika ada yang
bilang mekanisme pasar adalah segala-galanya. Ga’ mesti dan tidak juga. Pada
suatu saat tetap diperlukan peran pemerintah sebagai regulator (tapi bukan
sebagai pemain).
Jika
dalam realita terdapat kejanggalan dalam pemerintah, maka itu adalah permasalahan
oknum dan permasalahan sistemik yang sudah sedemikian meluas, ex : korupsi,
birokrasi de el el.
Bekerja
di MNC adalah dosa besar!
Saya
tidak sependapat dengan pendapat mereka. Coba tolong pisahkan antara
permasalahan yang ada, baru ngomong!