Mahasiswa dan pengemis

Aku ga’ jadi pulang tanggal 17
Okt. Tadi aku dari Bogor, tiket kreta untuk tgl 17 Okt udah habis smuanya.
Jadinya aku tetep pulang tgl 20 Okt. Ya udah, ga’ apa2. Tapi aku harus
memanfaatkan waktu luangku di sini dg kegiatan yg berguna, terutama menulis.
Aku butuh duit untuk persiapan masa depan!!!!

 Tadi aku naek KRL. Di KRL aku liat pengemis, pengamen dan
segala macam orang yg nasibnya kurang beruntungt. Aku jadi berpikir, apakah
hidup ini memang seleksi alam? Apakah harus ada orang yang berada di bawah dan
orang yang berada diatas. Harus ada orang miskin dan orang kaya? Harus ada
orang yang sehat walafiat dan orang cacat yg mengais rezeki dg seadanya? Apakah
harus ada orang tamak dan orang rakus????

 Lalu ketika terdapat program anti kemiskinan, program
kesejahteraan atau program apapun, apakah tetap harus ada orang miskin? Apakah
miskin adalah sebuah keniscayaan? Apakah memang harus ada jurang antara si Kaya
dan si Miskin?

 Atau negara ini sudah salah urus? Padahal dalam konstitusi
dasar, jelas2 tercantum, “…fakir miskin dan orang terlantar dipelihara oleh
negara…” apakah negara ini sudah melupakan kewajiban mereka? Kalo begitu, untuk
apa ada negara Indonesia jika keadaannya seperti ini?

 Aku jadi teringat dg lagu ‘tanah air’ :

 

Tanah air ku
tidak kulupakan

Kan terkenang
selama hidupku

Biarpun saya
pergi jauh

Tidak kan
hilang dari kalbu

Tanahku yang
kucintai

Engkau
kuhargai

Walaupun banyak
negeri kujalani

Yang masyur
permai dikata orang

Tetapi aku
dan rumahku

Disanalah ku
rasa senang

Tanahku yang
ku tak kulupakan

Engkau
kubanggakan

Tanah air ku
tidak kulupakan

Kan terkenang
selama hidupku

Biarpun saya
pergi jauh

Tidak kan
hilang dari kalbu

Tanahku yang
kucintai

Engkau
kuhargai

 

 Ini adalah lagu yang tiap hari kedungarkan. Aku jadi suka
dengan lagu ini. Dari lagu ini memang dapat diambil kesimpulan meskipun bahwa
tanah air Indonesia memang adalah darah daging. Aku sendiri mencintai tanah
air, Indonesia. Aku lahir dan ingin mati di Indonesia (seperti yang kutulis di
Friendster). Meskipun negeri ini sudah bobrok namun aku tetap mencintainya.
Justru dengan kebobrokannya aku berniat ingin merubahnya. Ini adalah salah satu
cita2 hidupku. Aku harus mampu membuat perubahan di negeri ini. Tentu saja
perubahan memang tidak bisa dilakukan hanya oleh satu orang. Negeri ini tidak
butuh SUPERMAN, namun Indonesia butuh SUPERTIM. Kita harus mampu bekerja dalam
TIM yang mampu memberikan perubahan ke arah yang lebih baek. Dengan adanya TIM
yang kuat pula, maka individu-individu yang sudah unggul tinggal digabungkan
keunggulannya.

 Indonesia memang banyak memiliki prestasi individual. Namun
mengapa negeri ini masih dalam kubangan kemiskinan, kemelaratan, korupsi dan
segela keburukan yang jika kusebutkan satu persatu di sini pasti akan membuat
hati pedih (maksudku adalah ‘hati nurani’).

 Kmrn aku buka FS, begitu di bagian ‘home’ mataku tertuju
pada tulisan ‘update blog’ terutama pada blog salah satu temenku, yaitu Nia,
temenku seangkatan. Sempet kubaca, kurang lebih begini, “…setelah
berkecimpung dalam kegiatan kemahasiswaan, sekarang aku sudah apatis dengan
kegiatan kemahasiswaan, begitu pula ketika mendengar mars teknik dan yel
teknik…” Aku ga’ hapal dengan isi lengkapnya.

 Apakah kegiatan kemahasiswaan memang sudah berubah. Hanya
sekedar menjalankan kegiatan dan tahun ke tahun. Lalu apa bedanya dengan
kegiatan di SMU. Ketika aku baru masuk, aku langsung dicekoki dengan idealisme
bahwa mahasiswa memiliki peran yang penting dalam perubahan bangsa. Demikian
juga ketika aku sudah menjadi senior. Aku senatiasa mencekoki kepada mahasiswa
baru tentang pentingnya mahasiswa dalam perubahan bangsa. Kmrn waktu PPAM teknik, aku masih ingat kalo aku merecoki maba dengan nilai-nilai ke-IKM FTUI-an. Apakah hal itu masih relevan dg kondisi sekarang?

 Namun apakah mahasiswa skrg masih spt yang sulu. Mahasiswa
sudah tidak memiliki peran yang signifikan dalam perubahan bangsa. Hal inilah
yang membuatku ingin cepat lulus dan memasuki dunia profesi. Aku ingin segera
memberikan yang terbaik untuk bangsa ini. Ketika dengan menjadi mahasiswa aku
merasa tidak sanggup untuk memberikan dampak positif terhadap masyarakat, lalu
buat apa menjadi mahasiswa yang hanya berteriak-teriak. Memang benar kalo kita
mesti usaha. Namun usaha sampai kapan? Sampai suara dan tenggorokan ini
kering?????

4 Responses to “Mahasiswa dan pengemis”

  1. ian Says:

    Eh bener Rip, jd mahasiswa bukan ttg teriak- teriak..

    Trus jg, “…fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara…”, dr sejak SD ak dah mikir kl Indonesia ini terlalu puitis kl bikin aplikasi.

    Nah kl kita benar2 mengacu pd kalimat itu jg, berarti memang akan selalu ada terus fakir miskin dan anak- anak terlantar krn “dipelihara” oleh negara.
    Bahkan kl mau mikir ekstrim, ini semua memang diprogram sedemikian rupa.
    Lalu, apakah masalah cm ada di fakir miskin dan anak-anak terlantar? Waktu Ramadhan gini kita sering liat Iklan Layanan Masyarakat ttg membantu orang yg kurang beruntung kan?

    Zainudin MZ bilang, “…masih banyak fakir miskin, orang-orang jompo, janda-janda tua…”
    Nah, knp orang-orang jompo dan janda-janda tua tidak masuk hitungan di UUD? Mungkin g terpikir or mungkin memang g dipikir…

    Krn dg bgini ternyata mempengaruhi opini publik jg. Isu yg sering diangkat umumnya ttg fakir miskin dan anak-anak terlantar aja.

    Well, mungkin km lbh tau keadaan di sana. Pertanyaan ini udah lama ak pikirin…
    Ak dukung km demi memajukan Indonesia. Kl ada ide bs share k ak =)

  2. Niiaaa Says:

    ,,,trus solusi dari anggota MPM ketua komisi kemahasiswaan gimana?…

  3. abc Says:

    mm, fakir miskin dan anak terlantar emg dipelihara oleh negara kok..
    makanya suka ada razia gepeng, itu bukan diusir2 doang, ditangkep terus masuk penjara, enggak. mereka dibina supaya gak gitu lg. dan dipulangin kerumah masing2, selama masa binaan gak tinggal di penjara, ada wismanya
    tp kl ga punya rumah mereka boleh tinggal, boleh makan dsna.

    orang2 jompo belum tentu fakir miskin, orang jompo juga banyak yg punya keluarga. jadi kl undang2nya masukin orang jompo jd tanggungan negara, enak banget keluarganya ninggalin gt aja. jd pemerintah bkin undang2 kan dipikir juga

  4. lestari Says:

    no coment……………….

Leave a Reply