Congratulation to Muhammad Yunus and Grameen Bank

Selamat kepada pemenang Nobel Perdamaian 2006, Muhammad Yunus dan Grameen Bank. Muhammad Yunus memang pantas menerima nobel perdamaian atas dedikasinya menciptakan perdamaian mulai dari akarnya, yaitu memberantas kemiskinan.
Kemiskinan adalah musuh bersama dan akar dari semua masalah. Kemiskinan, kesenjangan sosial dan ketidakadilan adalah akar masalah dari terorisme.
Selama ini pemenang nobel perdamaian kebanyakan memang mereka yang berkutat upaya mencipatakan perdamaian secara eksplisit, seperti akibat perang, perang saudara, dll.
Muhammad Yunus adalah tokoh kelahiran Chittagong (Bangladesh) tahun 1940. Dia merintis Grameen Bank pada tahun 1974, ketika dia menjabat sebagai guru besar ekonomi di Univ Chittagong. Hal yang membuatnya terjun untuk memerangi kemiskinan adalah karena melihat ‘ironi’ yang terjadi di masyarakat. Sbg akademisi, dia merasa berdosa, “Ketika banyak orang sedang sekarat di jalan-jalan karena kelaparan, saya justru sedang mengajarkan teori-teori ekonomi yang elegan. Saya mulai membenci diri sendiri karena bersikap arogan dan menganggap diri saya bisa mengatasi masalah kemiskinan. Kami professor universitas semuanya pintar, tetapi kami sama sekali tidak tahu mengenai kemiskinan di sekitar kami. Sejak itu saya memutuskan kaum papa harus menjadi guru saya”
Grameen Bank adalah sebuah lembaga keuangan mirko (microfinancial) yang memberikan kredit kepada orang miskin. Definisi Grameen Bank diambil dari bahasa Bengali yang artinya Bank Desa atau Bank Pedesaan.
Apa bedanya dg lembaga kredit lain seperti perbankan? Grameen Bank tidak mensyaratkan agunan/jaminan/collateral seperti bank pada umumnya. Hal ini tentu saja memberikan kemudahan kepada orang miskin. Muhammad Yunus memiliki keyakinan bahwa orang miskin harus diberi kesempatan. Mereka bisa mengurus dirinya sendiri asalkan diberikan kredit.
Prinsip yang diterapkan pada perbankan pada umumnya adalah, semakin banyak yang Anda punya maka semakin banyak yang Anda dapatkan. Jika Anda tidak punya sedikitpun maka Anda tidak akan mendapat apapun. Jadi, mereka yang memiliki jaminan besar akan mendapatkan kredit dg jumlah yg besar.
Bagaimana dg Grameen Bank? Grameen Bank berangkat dari keyakinan bahwa kredit seharusnya diterima sebagai bagian dari hak asasi manusia. Seseorang yg tidak memiliki kekayaan apapun justru dialah yang mendapatkan prioritas untuk mendapatkan pinjaman.
Sasaran bank pada umumnya adalah orang-orang kaya. Tujuannya adalah memaksimalkan keuntungan.
Sasaran Grameen Bank adalah memberikan layanan finansial pada orang miskin, khususnya perempuan.
Bank pada umumnya banyak yang berpusat di perkotaan. Grameen Bank biasanya berada di pedesaan karena desa adalah kantong kemiskinan. Grameen Bank justru mendekat kepada masyarakat miskin. Di Bangladesh, sebanyak 13.866 staf Grameen Bank bertemu dengan 4,63 juta peminjam di depan pintu rumah yang tersebar di 52.829 desa.
Pembayaran di bank pada umumnya rumit dan bunganya berlipat ganda hingga mencekik leher. Pembayaran di Grameen Bank sangat sederhana, bisa mingguan bahkan harian. Bunga yang ditetapkan juga ringan. Namun Grameen Bank berbeda dengan tengkulak. Tengkulak juga mencekik rakyat. Grameen Bank tidak karena bunga yang dikenakan tidak tinggi.

Grameen Bank sudah terbukti mampu memberantas kemiskinan di Bangladesh. Kini, Grameen Bank memiliki 2.226 cabang di 71.371 desa dengan 94 persen modal dimiliki oleh orang miskin. Sebanyak 96 persen nasabahnya adalah kaum perempuan.

Mestinya Indonesia belajar dari Muhammad Yunus dan Grameen Bank. Selama ini isu kemiskinan hanya menjadi isu jualan publik. Pemerintah cenderung berada dalam batas wacana. Program kemiskinan hanya menjadikan orang miskin sbg objek, bukan subjek. Jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada dibawah Garis Kemiskinan) di Indonesia pada bulan Maret 2006 sebesar 39,05 juta (17,75 persen). Dibandingkan dengan penduduk miskin pada Februari 2005 yang berjumlah 35,10 juta (15,97 persen), berarti jumlah penduduk miskin meningkat sebesar 3,95 juta.
Berbicara masalah Grameen Bank, aku jadi ingat dengan sebuah tulisan Grameen Bank pada sebuah diskusi tentang kemiskinan, pertengahan tahun 2005. Tulisan tsb menganalisis tentang adaptasi Grameen Bank di Indonesia.
Menurutku kita tidak usah malu-malu mengadopsi Grameen Bank. Sistem ini justru skrg banyak diterapkan oleh berbagai negara. Bank Dunia yang tadinya memandang sebelah mata, kini memandang mengadopsi gagasan kredit mikro.
Pemberantasan kemiskinan yang dilakukan Muhammad Yunus dan Grameen Bank adalah bukti konkret. Selama ini kemiskinan sekedar menjadi komoditas berbagai lembaga internasional, seperti Bank Dunia, UNDP, IMF, ADB atao se-abreg lembaga lainnya.
Langkah yang dilakukan Muhammad Yunus dengan Grameen Bank dapat menjadi contoh bagi kita semua.
Kapan negara kita mau mencontoh Grameen Bank?

One Response to “Congratulation to Muhammad Yunus and Grameen Bank”

  1. ian Says:

    Grameen Bank ya, Tip? Tapi masih pakai bunga…
    kenapa bukan Syariah Bank (Takaful), yang sedang gencar-gencarnya dikembangkan Malaysia? Spertinya lebih “enak” yang ini. Non-interest, jadi gak “mencekik” dan halal.

    Kalau bisa begitu kan lebih baik tho, Rip?

Leave a Reply