Apa Arti Nasionalisme???

August 18th, 2007 by arip-muttaqien

       Tepat 62 tahun yang lalu,
bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Apa artinya merdeka?
Banyak artinya. Merdeka bisa berarti luas, tidak hanya sekedar bebas dari
belenggu kolonialisme penjajah. Namun kemerdekaan dalam arti sesungguhnya
adalah menjadi bangsa yang bebas, bangsa yang bermartabat, bangsa yang memiliki
harga diri, bangsa yang memiliki cita-cita dan bangsa yang besar.

 Berikut ini adalah cuplikan kata-kata yang dituliskan Kompas, edisi 16 Agustus 2007. Komentar
ini berasal dari banyak kalangan.

  • “Dulu selama 3 tahun, selain kuliah di UGM
         aku membantu jadi guru Bahasa Inggris di SD Jatisari Sleman tanpa dibayar.
         Aku tak mau kemiskinan struktural membelenggu murid-muridku untuk maju”,
         Thomas, 31 tahun, Semarang
  • “Walaupun aku gak bisa nerusin sekolah SMA
         dan sekarang bekerja tapi aku akan berusaha belajar dari media apapun yang
         bisa membuat aku tidak bodoh”, Rastikawati, 18 tahun, Jakarta
  • “Saya lebih memilih tas buatan Tanggul
         Angin-Sidoarjo ketimbang tas bermerk meski bisa nitip ke suami yang
         kadang-kadang dinas ke luar negeri”, Dhani, 42 tahun, Jakarta
  • “Menjadikan rumah tangga sebagai tempat yang
         demokratis bagi anggotanya dalam mewujudkan iman dan nasionalisme”,
         Benjamin Sitepu, 60 tahun, Bekasi
  • “Saya terjun ke kelompok-kelompok tani untuk
         penyuluhan Pertanian ORGANIK. Mendorong mereka untuk bertani secara ramah
         lingkungan, non kimia, menyehatkan dan mampu berdaulat secara pangan.
         Menyadarkan petani semata-mata untuk tidak menjadi objek produk perusahaan
         transnasional. Ini nasionalismeku”, Gons, 30 tahun, Pematangsiantar
  • “Gue cuma pake 6 gayung sekali mandi. Kalo
         keramas, nambah 2 gayung. Ini bentuk nasionalisme gw demi menjaga
         lingkungan Indonesia, apalagi nggak semua orang di Indonesia punya akses
         terhadap air bersih”, Svetlana, 19 tahun, Yogyakarta
  • “Aku kader posyandu, membantu kader balita
         tumbuh sehat, cerdas dan ceria merupakan bentuk nasionalismeku juga loh”,
         Ratu Tati Muthiah, 50 tahun, Bogor
  • “Banyakin nonton film Indonesia, dengerin
         lagu-lagu Top-40 Indonesia. Yuuuks mareee dukung film dan musik
         Indonesia”, Arum Sekar, 26 tahun, Jakarta
  • “Adikku hari ini berangkat menuju eksperimen
         ke Natuna, dalam rangka menguatkan pertahanan sosial budaya pulau-pulau
         terluar. Kudoakan tim mereka dapat menjalankan tugas dengan baik. Rasanya
         bangga dengan kiprah anak-anak muda itu. Pertahankan kedaulatan Indonesia
         seutuhnya”, Nataresmi, 28 tahun, Tangerang
  • “Nasionalisme gue dengan tidak membeli kaset
         bajakan dan tetap memakai kebaya dalam setiap acara khusus”, Johanna, 21
         tahun, Jakarta
  • “Aku cat tembok kamarku jadi merah putih.
         Tiap bangun tidur dan mau tidur aku pandangi dwi warna. Ini nasionalismeku
         banget”, Andita S.M., 19 tahun, Surabaya
  • “Gw kerja di sebuah perusahaan retail bagian
         CCTV/Central. Salah satu tugas gw adalah nyetel lagu untuk didengar
         pengunjung. Selama 8 jam gw bertugas, lagu yang didengar oleh pengunjung
         adalah lagu-lagu anak bangsa, gw ga pernah nyetel lagu barat. Buat gw ini
         juga bentuk nasionalisme”, Rury Purwanto, 22 tahun, Tangerang
  • “Gw cinta budaya Indonesia! Sampe sekarang,
         gw masih maenin permainan ‘asli Indonesia’ seperti bekel, congklak, gw
         pikir permainan Indonesia bener ga ada matinya! Sampai sekarang permainan
         kayak gitu tetep seru, itu dia yang bikin gw cinta Indonesia”, Gracia, 16
         tahu, Jakarta
  • “Dengan bersepeda ke kantor walau 2 kali
         seminggu dan selalu memanfaatkan kertas bekas di kantor dapat membuat bumi
         Indonesia lebih sehat, ini nasionalisme gue”, Petrus Simanjuntak, 27
         tahun, Bekasi
  • “Aku selalu pilih produksi dalam negeri
         daripada barang impor”, Y. Soenaryo, 62 tahun, Yogyakarta
  • “Saya mencoba mendaur ulang sampah rumah
         tangga dengan membuatnya menjadi pupuk atau kerajinan tangan. Dengan
         mendaur ulang sampah kita mencoba untuk membuat Bumi Nusantara kita lebih
         baik”, Muhamad Firmanyah, 17 athun, Tangerang
  • “Waktu kuisi perut di angkringan “JoZZ”,
         tba-tiba ada pengamen dan aku pun request lagu. Ayo Mas…kita nyani
         Indonesia Raya aja!! Dan akhirnya lagu heroik selama 62 tahun itu kita
         nyanyikan dengan lantang di tengah hiruk pikuk angkringan di sudut Yogya.
         Ini pasti nasionalismeku”, Gabriella L.D. Swastika, 18 tahun, Yogyakarta
  • “Saya bangga dengan karya batik Indonesia
         karena batik adalah adi busana yang mempunyai nilai seni budaya bangsa.
         Dengan memaki baju batik, itu bentuk nasionalisme saya”, Dewi Andarina, 37
         tahun, Jakarta
  • “Nasionalisme adalah orang yang punya
         kesempatan besar memperkaya diri lewat korupsi tetapi tidak melakukannya.
         Sebagian orang bilang ini bodoh, saya bilang ini nasionalisme”, Andoko, 46
         tahun, Jakarta
  • “Anakku yang lahir 5 bulan lalu kuberi nama
         DAMAI NUSANTARA, karena nama anak merupakan doa orangtua”, Ardiansah
         Damopolii, 33 tahun, Makassar
  • “Saya tetep setia didepan TV, walaupun
         Ananda crash, Yendri Pitoy memungut bola dari gawangnya berkali-kali,
         Taufik kena smash terus atau M. Rahman dihajar habis-habisan. Tak ada
         kejadian apapun yang membuat saya berhenti mendukung pejuang Indonesia”,
         Ali Husen, 18 tahun, Bandung
  • “Kupunya ayam kalasan, mengapa harus heboh
         dengan fried chicken orang. Aku punya martabak terang bulan mengapa harus
         heran dengan pizza berbentuk piring terbang. Ku punya pulau, laut luas
         membentang membuat orang ingin menyerang. Tak kan pernah aku relakan walau
         nyawa harus melayang!”, Roymond, 30 tahun, Jember
  • “Gue mikir, sekarang upacara cuma sebulan
         sekali, sedangkan ngobrol dan cekikikan bisa setiap hari. Gue memilih jadi
         salah satuu orang yang hormat ke bendera di antara obrolan dan cekikikan
         di sekeliling gue”, Chintya Bamby, 15 tahun, Bekasi
  • “Sekali dalam seminggu saya wajib mencoba
         membuat salah satu jenis makanan khas daerah dari seluruh nusantara dan
         menyajikan untuk keluarga agar lewat makanan, nasionalisme mereka juga
         terpupuk”, Lala Lestarya, 27 tahun, Kabanjahe
  • “Saya akan berkata DUNIA HIBURAN bukan DUNIA
         ENTERTAIN. Akan berujar AMAT PENTING bukan IMPORTANT BANGET. Akan mengaku
         SUNGGUH TERTARIK bukannya INTEREST SEKALI. Akan malu, jika terus membuat
         telinga Bapak/Ibu gatal-gatal”, Maria Pade Rohana, 23 tahun, Jakarta
  •  “Saya
         dan keluarga memilih untuk membeli produk berlabel MADE IN INDONESIA atau
         yang diproduksi di pabrik Indonesia, karena dibalik label itu ada ribuan
         buruh yang menggantungkan hidup dan nasib anak istrinya”, Osa Kurniawan
         Ilham, 33 tahun, Balikpapan
  • “Kami sering berkirim email dengan
         orang-orang dari seluruh dunia. Bisa berbicara dengan mereka dan
         menceritakan bahwa masyarakat Indonesia ramah, bermartabat, berbudaya dan
         cerdas, sudah merupakan bentuk dari nasionalisme kami yang teralisasikan”,
         Sodiqa dan Strida, 18 tahun, Tangerang
  • “Gak usah muluk-muluk bicara soal
         nasionalisme. Aku kerja bakti RT seminggu sekali, ronda dua kali sebulan
         dan peduli sama tetangga kiri-kanan, depan-belakang. Itu nasionalisme
         banget menurut aku”, Wempy Rustikana, 39 tahun, Cirebon
  • “Kurela tinggalkan karierku demi menjadi ibu
         rumah tangga yang baik. Kan kudidik anak-anakku jadi generasi penerus
         bangsa yang tangguh, bebas narkoba, dan berakhlak. Itulah nasionalismeku
         dengan mempersiapkan pemimpin masa depan”, Atina, 39 tahun, Purbalingga
  • “Saya berlibur cukup di dalam negeri saja.
         Di seluruh penjuru tanah air saya dapat menemukan keindahan dan eksotisme
         yang gak kalah dari negeri lain. Ini bentuk nasionalisme kan?”, Shinta
         Budianto, 30 tahun, Yogyakarta
  • “Bagiku nasionalisme ialah mencintai makanan
         khas Indonesia, yang jumlahnya ribuan! Bayangin, bangsa asing aja
         bela-belain jajah Nusantara dikarenakan rempah-rempah, eh knapa kita nggak
         suka makanan yang kaya dengan bumbu khas Indonesia???”, Anna R Rawaning S,
         30 tahun, Jakarta
  • “Saya adalah PRT. Kalau belanja dan memasak,
         saya selalu menggunakan produk Indonesia. Bukankah itu bentuk nasionalisme
         orang seperti saya?”, Nafi’ah, 34 tahun, Jakarta
  • “Setiap HP-ku bunyi, orang selalu bilang
         ‘nasionalis banget’. Itu karena nada dering HP-ku Indonesia Raya. Saat
         banyak orang mencari lagu pop, dangdut, rock atau barat terbaik untuk nada
         dering, aku justru memakai lagu kebangsaan”, Agus Setyanto, 36 tahun,
         Jakarta
  • “Membersihkan lingkungan rumah masing-masing
         itu merupakan nasionalisme yang paling mudah dan sederhana dilakukan,
         betul?”, Aan Permana, 31 tahun, Garut
  • “Tak perlu menjadi orang Belanda, orang New
         York atau band U2. Cukup menjadi diri sendiri”, Diki Satya, 32 tahun,
         Jakarta
  • “Di sini tak cukup dengan mengibarkan merah
         putih sudah berjiwa nasionalisme, tapi dengan pelatihan keahlian untuk
         bangkit yang saya berikan bagi mereka yang tertindas dan konflik dan
         bencana, setidaknya bisa mengibarkan semangat merah putih kepada mereka di
         negeri ini.”, Sudarmansyah, 29 tahun, Aceh
  • “Saya buka sekolah gratis khusus untuk
         anak-anak tidak mampu dengan kemampuan dan kurikulum khusus serta
         fasilitas lengkap, sehingga Indonesia akan punya ahli di segala bidang dan
         tidak tergantung pada negara lain.” E.P. Satyaningsih, 38 tahun, Magelang
  • “Pemulung, itulah sebutan yang dilontarkan
         oelh teman-teman untuk saya. Karena saya sering memungut sampah dimanapun
         berada. Tak jarang saku saya tebal, bukan karena uang banyak, tapi karena
         penuh dengan bungkus permen. Itulah ekspresi nasionalisme saya!”, M.
         Sholoch Mubarok, 21 tahun, Demak
  • “Kususui sendiri bayi-bayiku semapi umur 2
         tahun, jadwal ketat imunisasi, kusiapkan sendiri makanan yang bergizi,
         kuajari sopan dan ramah, kuajari melakukan pekerjaan rumah tangga
         sehari-hari, jadilah mereka anak yang pandai dan berbudi, nah kini mereka
         kupersembahkan untuk jadi pandu pertiwi.” Farida, 50 tahun, Jakarta
  • “Saya bertani di desa agar berkurang satu
         beban negara karena pengangguran, itu nasionalismeku!”, Adi, 24 tahun,
         Cianjur
  • “Gw lebih suka beli baju di distro-distro
         yang banyak buatan baju dalam negeri. Lagian baju dalam negeri lebih
         murah, gak kalah bagus tuh mutunya ama buatan luar negeri, malahan
         desainnya lebih variatif, inovatif dan gak pasaran.” Saphira Evani, 16
         tahun, Tangerang
  • “Saya dan istri membuka Sanggar Kreatifitas
         Seni di teras halaman rumah di bawah pohon mangga. Tiap minggu menggambar
         bersama anak-anak tetangga. Menumbuh-kembangkan imajinasi, intuisi, ide,
         gagasan adalah bentuk kesadaran nasionalisme juga!”, Munadi, 44 tahun,
         Tangerang
  • “Tugasku menjaga kerapihan barisan setiap
         hari Senin dan membuat kelas selalu tertib adalah bagian dari nasioanlisme
         juga kan?” Muhammad Rifky Ramadhani, 7,5 tahun, Depok
  • “Bikin kursus komputer gratis bagi anak SD,
         SMP biar generasi kita melek teknologi” Adja Djadja, 39 tahun, Bandung
  • “Saya ibu rumah tangga dengan 3 putra,
         selalu pakai produk lokal seperti gula pasir, wortel, daging dll.
         Sayangnya saya tidak bisa bedakan garam lokal atau impor”, Verna, 48
         tahun, Tangerang
  • “Saya dirikan LKM khusus untuk KK miskin
         dengan modal sendiri. Memberikan pinjaman berupa sepasang kambing untuk 47
         KK miskin dengan target 800 KK miskin dalam 6 bulan dengan sistem bagi
         hasil 70-30” Mulyadi, 29 tahun, Kabupaten Lima Puluh Kota
  • “Temenku ada yang suka banget borong buku
         murah kalo lagi ada pameran buku, dan ternyata bukan buat dia, tapi buat
         dikirim ke para TKW di luar negeri sono, biar mereka tetep melek
         informasi. Nasionalis banget yach!” Indira Primasari, 22 tahun, Yogyakarta
  • “Kalo aku, sebisa mungkin selalu baca koran,
         mengikuti berita TV, radio, media online, terutama berita nasional,
         meskipun gak setiap hari, karena menurut aku sebagai generasi penerus,
         kita harus tahu dan peka terhadap situasi dan kondisi bangsa.” Nurlinda
         Komala, 20 tahun, Sukabumi
  • “Walau bukan PNS mengikuti peringatan hasi
         bersejarah sudah merupakan bentuk nasionalismeku buat tanah airku.”
         Saryoni, 43 tahun, Padangpanjang
  • “Aku terus menabung agar bisa jadi sarjana
         hukum, biar di negeriku tak lagi ada jual beli hukum.” Imam Subkhi, 23
         tahun, Brebes
  • “Gue cinta band-band indie lokal gue
         sendiri, gak kalah cadas sama band-band luar negeri. Bentuk nasionalisme
         gue yang orang lain anggap sepele!” Emir Darmawan, 27 tahun, Jakarta
  • “Dalam rangka HUT RI di lingkungan rumah,
         saya mengadakan lomba kreasi makanan dari singkong. Ini bentuk
         nasionalisme saya sebagai generasi muda dalam melestarikan kue tradisional
         ditengah maraknya kue modern.” Ansi Rima Paramita, 21 tahun, Tangerang
  • “Gagasan untuk membangun daerah Bangka
         Selatan kerapkali kutuangkan dalam bentuk tulisan di koran. Ajakan
         membangun daerah merupakan bentuk nasionalismeku sebagai rakyat.” Rusmin
         Syofian, 39 tahun, Toboali
  • “Nasionalisme kuwujudkan dengan mencintai
         musik dangdut, yang notabenenya musik khas Indonesia.” Rianti, 20 tahun,
         Yogyakarta
  • “Dua anakku kuberi nama dengan karakter
         Indonesia yang kental. Jadi meski orang belum pernah bertemu dengannya secara
         langsung, orang pasti akan tahu, anak saya memang anak Indonesia.” Amir
         PR, 35 tahun, Makassar
  • “Berkarya sebagai guru dan memperkuat ‘akar’
         kebangsaan sekaligus mendampingi mereka. Bangga rasanya jadi elemen
         pencerdas bangsa. Agar garuda-garuda Indonesia dapat mengepakkan ‘sayap’
         menggapai cita-citanya dan tetap berdiri tegak sebagai orang Indonesia.”
         Adven Sarbani, 24 tahun, Jember
  • “Ketika semua teman seangkatanku pakai gaun
         mewah dan tuxedo ke acara prom night waktu SMA, aku bangga datang edngan
         mengenakan kebaya mamaku.” Dyah Ayu, 21 tahun, Jakarta
  • “Ketika gue bersama suporter lain berjuang
         antri tiket bola selama 5 jam desak-desakan di terik matahari, sampe ada
         yang menginap di halte bus, ada yang terluka. Ketika lagu INDONESIA RAYA
         berkumandang, kami bernyanyi bersama disertai air mata, tepuk tangan dan
         berteriak sekeras-kerasnya.” Roberto Tambunan, 22 tahun, Tangerang
  • “Saya sedang membiayai warung makanan ringan
         untuk teman-teman saya yang belum mendapatkan pekerjaan tetap. Hanya
         dengan modal Rp 5 juta, tiga orang teman saya dapat penghasilan tambahan
         untuk keluarganya.” Yahmin G. Tarigan, 33 tahun, Rantau Prapat
  • “Sebagai penanggungjawab di kantor cabang,
         saya berusaha memberikan layanan yang terbaik, cepat dan maksimal kepada
         masyarakat. Saya hilangkan birokrasi yang berbelit-belit dan high cost.
         Nasionalisme kupupuk dengan menjadi lebih profesional dan bertanggungjawab
         terhadap pekerjaan.” Yessie Marisa, 31 tahun, Makassar
  • “Setiap bulan Agustus datang, saya pasang
         bendera merah putih di tiang spion sepeda motor saya. Setiap bertemu
         dengan pengendara motor lain, saya teriakkan dengan lantang “MERDEKA!!!”
         Bayangkan bila kami setiap kali bertemu di jalan secara serempak
         meneriakkan kata MERDEKA!!!” Moch Faisol, 31 tahun, Jombang

Peristiwa 13 Tahun Lalu

August 11th, 2007 by arip-muttaqien

Blog, selamat bertemu kembali. Dalam kesempatan ini aku akan menceritakan sebuah peristiwa yang terjadi beberapa tahun lalu, tepatnya Jumat, 6 Mei 1994.

Waktu itu aku masih kelas 3 SD. Ya…namanya anak-anak, masih seneng lah, maen2 ke sana-sini. Di rumahnya waktu itu ada dua buah sepeda. Aku suka naik sepeda waktu kecil. Aku senang bermain terutama dengan kakakku. Biasanya kemanapun dia pergi, aku selalu ikut.
Suatu siang aku naik sepeda hingga ke jalan raya.

Rumahku memang berada persis didepan jalan raya propinsi. Jalan raya itu sangat ramai dan dilalui bus yang lalu lalang. Sejak kecil aku sudah terbiasa dengan kebisingan yang ditimbulkan bus, truk dan segala macam debu yang menerpa rumahku.
Aku naek sepeda meninggalkan rumah. Waktu itu sekitar jam jam setengah 3 siang. Muter2 tidak jauh dari rumah. Hanya sekitar radius 400 meter. Pulang dari muter-muter, aku harus segera balik ke rumah. Aku memutuskan untuk lewat ke jalan raya. Jalan raya tidak terlalu ramai. Hanya bbrp mobil lewat. Aku naik sepeda dengan santai.

Nah…tiba saatnya untuk nyebrang jalan. Aku harus nyebrang ke arah kanan. Saat itu aku berada kira2 100 meter dari rumah.
Tanpa melihat ke belakang, aku langsung saja nyebrang dengan mengendarai sepeda.

Tiba-tiba…
Terdengar suara mobil mengerem dengan mendadak. Suara mobil berasal dari belakang. Aku menoleh ke asal suara, tepatnya di belakangku. Mobil itu berhenti tepat satu meter di belakangku.
Aku tidak sadar bahwa pada saat aku mau nyebrang naik sepeda, saat itu ada mobil sedan yang melaju dengan kecepatan tinggi. Sopir mobil itu berhasil menghentikan mobilnya.

Karena terdengar suara yang keras, banyak orang yang keluar dari rumah. Mereka mengira ada yang kecelakaan karena di daerah itu memang sering terjadi kecelakaan.

Menurut orang-orang, ditempat aku hampir kecelakaan itu, memang sering terjadi kecelakaan. Beberapa orang meninggal. Sejak aku lahir dan tinggal di daerah itu, sudah belasan kali terjadi kecelakaan dan bbrp korban meninggal dunia.
Orang tuaku dan kakakku keluar dari rumah. Tentu saja mereka kaget.

Fuih….syukurlah.
Aku selamat. Jika saja sopir mobil itu tidak dapat menghentikan mobilnya, aku tidak tahu apakah aku masih bisa menuliskan cerita ini di blog.
Pada waktu itu, aku keluar hanya memakai celana pendek dan kaos oblong. Orang tuaku menyimpan celana pendek dan kaos obong itu hingga sekarang. Di dalamnya ada tulisan, “Ya Allah, Alhamdulillah anak kami telah selamat. 6 Mei 1994”

Hingga sekarang kadangkala aku trauma jika nyebrang ke arah kanan. Aku masih sering melihat kaca spion ke belakang hingga aku yakin. Namun…itu kadang-kadang.
Aku yakin bahwa maut dapat datang menjemput sewaktu-waktu. Manusia hanyalah kecil di dunia dunia ini. Sebuah makhluk kecil yang tidak ada apa-apanya dibandingkan Sang Pencipta. Yang dapat dilakukan manusia hanyalah meminimalisir probabilitas/kemungkinan terjadinya kecelakaan. Namun manusia tidak dapat menghilangkan sama sekali probabilitas tersebut (zero).
Contohnya, kecelakaan pesawat. Naik pesawat bagus, mahal atau bergengsi sebenarnya tetap saja ada risiko kecelakaan. Tidak serta merta pesawat mahal maka tidak akan terjadi kecelakaan.

Aku hanyalah manusia biasa yang senantiasa terus berjalan di bumi. Semoga jika aku mati, aku mati dalam keadaan beriman. Aku takut jika pada saat mati aku tidak dalam keadaan beriman kepada-Nya.
Terkadang cacat sedikit memang dapat merusak susu sebelanga. Semakin hari, aku semakin mengerti dan dapat memahami. Terus berusaha memahami arti kehidupan. Semoga aku dapat menjadi orang yang tidak rugi hidup di dunia ini dan meninggalkan sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain.
Amin…………

Depok, 11Agustus 2007

21:10 WIB

Kembali dari Gorontalo

August 10th, 2007 by arip-muttaqien

Alhamdulillah, bisa pulang dengan selamat sampai di Jakarta. Kmrn bbrp hari ada di Gorontalo, ikutan rapid assesment Program Keluarga Harapan (PKH) yang diadakah Bappenas.

Fuih….pengalaman yang menyenangkan. Ikutan tahu tentang proses program pemerintah di lapangan. Kmrn waktu pulang, naek pesawat, sempet dag dig dug. Pesawatnya, baru take off 1 menit, menukik ke bawah slama bbrp detik. Terang saja, seluruh penumpang pada panik. Selama perjalanan, ngrasa kalo ada yang aneh. Alhamdulillah, bisa sampe dengan selamat di Cengkareng.

Aku ikutan ke Gorontalo, tanggal 6 - 9 agustus 2007. Lumayan, bisa foto2 di sana, hehehe….

Jika melihat daerah, terdapat banyak ketimpangan dengan pembangunan di Jakarta. Keliatan banget bahwa Indonesia slama ini hanya ada di Jakarta (atau Jawa). Kue pembangunan memang kurang merata. Ini adalah bibit dari separatisme di daerah. Jika obatnya dari dulu cuma tindakan represif, ya itu kurang efektif.

Tindakan preventif yang tepat adalah meratakan pembangunan di seluruh Indonesia. Kmrn waktu tiba di bandara Djalaluddin, nama bandara di Gorontalo (red). Di sana banyak perbedaan. Bandara tersebut masih baru dan dalam tahap pembenahan. Kamar mandinya jorok. Air port tax-nya??? Rp 9.000,-. Jangan bandingkan dengan Soekarno-Hatta seharga Rp 30.000,-. Beda jauh lah….

Itu baru yang keliatan sedikit. Belom kalo menelisik lebih jauh lagi. Well, semoga Indonesia lebih baik lagi kedepan

-arip muttaqien-

-orde pemikiran bebas-

diskusi menarik dan sikap asal ikut saja

July 1st, 2007 by arip-muttaqien

               Beberapa hari lalu, aku
teringat dengan perbincangan dengan dua orang teman. Waktu itu aku berada di
jurusan. Lagi ngobrol, tiba-tiba ada lowongan kerja di BSM. Iseng-iseng kutanya
pada dua temen itu, mau kerja di perbankan syaraih? Orang pertama (L) menjawab,
“Mau” dan orang kedua (J) menjawab, “Mau”. “Kenapa?”, tanyaku kepada L dan J.
Kedua orang menjawab secara singkat bahwa karena sesuai dengan syariat Islam.

 “Terus, kalo kerja di Bank Indonesia, sesuai dengan
syariah?”, tanyaku. L menjawab, “Tidak, karena menganut riba”. Aku tanya balik,
“Terus kalo ga ada BI khan ga ada regulatornya, siapa yang ngatur bank
syariah?”. L diam dan tidak menjawab, lalu meneruskan, “Tidak tahu”.

 Aku meneruskan pertanyaanku, “Tahu bedanya bank syariah dengan
bank konvensional?” Aku memakai istilah ‘konvensional’ aja, bingung mau pake
istilah apa (padahal menurutku istilah ‘konvensional’ patut dipertanyakan).
“Tidak tahu”, kedua-duanya menjawab serempak. Akhirnya, aku menjelaskan salah
satu yang beda saja, yaitu dalam menghitung bagi hasil dibandingkan dengan
bunga. Aku jelaskan juga bahwa konsep perhitungan bagi hasil juga ada yang
masih mengganjal. Cuma bedanya, bank syariah, ada brand ‘anti riba’.

 Haduw…………….

 Ini anak muda jaman sekarang. Parah banget wawasannya.
Kapan mau berkembang? Tapi terus terang aku tidak menyalahkan mereka yang
kurang wawasan. Maklum, seandainya mereka kuliah di fakultas ekonomi atau
menekuni ekonomi syariah, tentu saja wawasan mereka lebih banyak.

 Hanya saja yang aku permasalahkan adalah pola pikir
mereka. Yaitu menerima apa saja yang berbau atau berlabel syariah atau apapun
yang direkomendasikan lembaga fatwa tanpa berpikir kritis dan terbuka.
Mestinya, lebih bijak jika menerima sesuatu dengan kritis, tidak serta merta
menerimanya.

 Satu sisi, aku tidak mempermasalahkan jika mereka memang
benar-benar tidak mengerti. Tapi mereka khan mahasiswa. Yach, ada peningkatan
strata dikit lah dari sisi intelektual. Yach, mikir dikit gitu lah, apa
susahnya.

     Jangan Cuma terpaku atas apa yang dikatakatan otoritas
ulama dan tafsiran dari satu pihak. Coba berpikir ‘out of box’, yaitu terus berusaha mencari tahu dan berpikir dengan
logika dan fakta atas tafsiran tersebut.

 Tapi aku juga sadar bahwa akal dan segala prinsip pasti
memiliki keterbatasan. Jadi, jangan sampai meyakini bahwa apa yang kita yakini
adalah bersifat final. Pemikiran manusia itu dinamis. Jangan pernah menganggap
yang sekarang adalah paling benar. Kita harus senantiasa bergerak terus
mengarungi pemikiran.

 Kuncinya adalah berpikir terbuka dan kritis. Jangan
sampai pikiran kita terkungkung dalam paradigma yang sempit, tidak mau mencari
tahu kebenaran dan menerima apa adanya!

     Ini yang aku lihat ketika aku menjadi mahasiswa. Beberapa
teman yang tergabung dalam kelompok tertentu, cenderung menerima dengan pasif,
artinya menerima apapun yang diberikan. Biasanya melalui mentoring-lah, atau
jika ada keputusan dari ‘atas’ tentang sikap politik tertentu. Sikap ini, aku
amati menjalar hingga sikap mereka di luar kampus, misalnya ketika ada ‘pesta
politik’ dalam pemilihan Kepala Daerah, atraksi politik di pentas nasional dan
lain-lain.

     Ok, tapi aku menghargai sikap orang lain. Itu adalah hak
mereka secara pribadi. Mau mereka jadi manusia, jadi monyet, jadi kodok,
beropini segala macam dan segala sikap, yang penting satu hal yang harus
dipegang adalah harus saling menghargai orang lain. Jangan pernah berpikir
bahwa pemikiran kita saat ini adalah paling benar. Jika hal itu yang terjadi,
maka hancur sudah generasi muda Indonesia!

Arip Muttaqien,
-alumni Universitas Indonesia-

Separuh hidupku hilang,

June 26th, 2007 by arip-muttaqien

Hari ini aku merasa hidupku hilang separuh

Data yang ada di laptop hilang,

Duh, rasanya stress tapi mau gimana lagi.

ultah….22 tahun….

May 26th, 2007 by arip-muttaqien

 Aku berada di Surabaya dari tanggal 21 Mei 2007 hingga 25
Mei 2007. Bener-bener dapat pengalaman yang menyenangkan selama berada di SBY.
Dapat banyak kenalan dari berbagai latar belakang mahasiswa dari berbagai
kampus di Indonesia.

 Acaranya adalah Indonesia Sampoerna Best Student 2007
(ISBS 2007). Di hari terakhir adalah hari ulang tahunku yang ke-22. Tepat
tengah malam menuju tanggal 25 Mei, aku diceburin ke kolam renang di hotel
Novotel SBY. Terus paginya waktu mau perpisahan, ada kejutan. Ada yang bawain
kue dan tiup lilin. Benar-benar ga nyangka. Lumayan dech, ulang tahunku
dirayakan mahasiswa se-Indonesia. Hehehe…

 Sorenya, aku tiba di Depok setelah terbang bersama Garuda
Indonesia. Nonton Kanban Competition. Malamnya, begitu acara Kanban selesai,
ada kejutan lagi. Kebetulan hari itu ada dua orang yang berulang tahun dalam
satu angkatan TI’03. Akhirnya ada acara tiup lilin. Ga tahu itu skenario siapa?

 Ada semacam semangat hidup yang baru. Ada semacam nafas
baru dalam hidupku dan aku merasa bahwa nafas tersebut harus senantiasa di
lanjutkan. Aku memasuki usia 22 tahun. Sebuah usia yang sudah kepala 2. Atau
kira-kira sepertiga dari rata-rata hidup manusia Indonesia. Berarti aku baru
mengisi sepertiga hidupku. Tak terasa berlalu begitu cepat. Bagaimana dengan
sisa sebesar dua pertiga yang lain?????

 Ini adalah tantangan bagiku…!!!

Bubarkan IPDN, cuma memboroskan APBN

April 7th, 2007 by arip-muttaqien

GILA!!!!!
Kekerasan kembali terjadi di IPDN, sekolah yang dulunya bernama STPDN itu kembali menghiasi media massa
Seorang siswa meninggal dunia.
Kalo hal seperti itu dibiarkan terus, habislah uang negara ini untuk membiayai ‘calon pamong gembel’
Mendingan uang negara buat subsidi universitas yang sudah berubah label menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN), yang jelas-jelas terus mengalami kenaikan uang kuliah
Apa jadinya kalo calon birokrat saja seperti itu?
Mau jadi apa Indonesia kedepan.
Saran positif,
BUBARKAN SAJA IPDN,
Sangat mubazir duit negara buat bayar sekolah kayak gitu.
Mendingan buat bayar utang luar negeri, nambahin fasilitas kesehatan untuk rakyat Indonesia, subsisi pendidikan non kedinasan, subsisi pendidikan dasar dan menengah

Allah dekat dengan kita

April 7th, 2007 by arip-muttaqien

Hari ini aku merasakan pikiranku agak cerah. Sudah lama aku tidak merasakan membaca Al Quran dengan sedemikian nikmat. Tak tahu kenapa, beberapa minggu sebelumnya terasa beban berat berada dipundak. Kini, seolah beban berat tersebut menjadi ringan. Walaupun sebenarnya tidak serta merta menyelesaikan masalah, namun setidaknya aku mendapatkan kedamaian hati.

Entah, tak terhitung berapa ribu aku langkahkan kakiku dengan kesombongan. Entah, tak terhitung berapa kali aku menghilangkan kesempatan untuk slalu bersyukur kepada-Nya. Entah, berapa kali aku melupankan-Nya.

Bulan Maret lalu, aku mendapatkan beberapa rezeki. Rezeki tidak selalu harus berupa uang atau materi. Bisa saja dalam hal laen, seperti kemudahan, keselamatan dan laen-laen.

Tanggal 20 Maret 2007, aku dinobatkan sebagai Mahasiswa Aktif Berprestasi tingkat Fakultas Teknik. Rasanya itu adalah hal yang tidak terduga sebelumnya dan aku sendiri tidak terlalu berharap. Namun, sayang sekali pada acara penganugerahannya, aku sendiri terlambat datang. Aku melewatkan sebuah momen penting. Selanjutnya aku akan mewakili Fakultas Teknik di tingkat UI. Tentunya butuh persiapan matang. Semoga saja jalanku dimudahkan.

Dua minggu lalu aku dapat undangan untuk hadir dalam International Student Week in Ilmenau (Jerman) yang akan diadakan pada 1-10 Juni 2007. Sayang sekali untuk biaya transportasi aku harus mencari sponsor karena panitia tidak memberikan biaya transportasi. Untuk itu, aku harus cari proposal.

Selama liburan di rumah, aku menghabiskan waktuku untuk membaca novel, terutama karangan Habiburahman El Sirazhy. Rasanya mendapatkan semangat baru untuk menyelesaikan penelitianku. Sebenarnya aku memiliki rencana untuk membuat novel, tapi tertunda selama dua tahun lebih. Keterbatasan waktu yang membuatku mengesampingkannya. Dan beberapa tahun terakhir aku lebih konsen pada penulisan artikel non fiksi atau artikel populer di koran dan beberapa penulisan tingkat nasional. Aku merasa kini sudah mendapatkan sedikit tantangan untuk menyelesaikannya.

Dan aku sudah siap dengan segala risikonya karena tema yang aku bawa agak kontroversial.

Entah, kenapa aku merasa lagi pingin nulis blog. Padahal aku termasuk orang yang malas nge-blog walaupun hampir tiap hari aku on-line dan selalu buka FS. Aku lagi pingin nulis. Kebiasaanku menulis agak berkurang dalam bbrp bulan terakhir karena kesebukanku. Semoga saja aku bisa merampungkan novel-ku sebelum wisuda (ayo semangat!!!).

Dunia internet malam-malam

March 3rd, 2007 by arip-muttaqien

Malam ini menunjukkan jam 23:00.

Aku masih ada di lobbi teknik. Merasakan dinginnya angin malam yang beberapa hari ini menghampiri Depok.
Dingin, rasanya menusuk tulang.
Aku sedang browsing mencari kelelahan.
Rasanya males ngerjain skripsi. Sebenarnya data udah dapat lengkap. Cuma lagi bete aja.
Iseng2 buka website Bank Dunia. Di sana liat2 laporan Bank Dunia
Membaca laporan tsb membuatku berpikir ttg lembaga internasional tsb.
Ada banyak pertentangan Bank Dunia dengan berbagai pengamat dan LSM.
Satu hal yang menarik adalah laporan Bank Dunia ttg kemiskinan yg sempat mengundang caci maki berbagai pengamat. Bahkan aku sempet pula bikin tulisan di tabloid Seputar Indonesia (dimuat tanggal brapa ya? aku lupa)
Menurutku, tidak mungkin korupsi terhadap bantuan dan utang dari lembaga internasional bisa jalan sendiri. Aku pikir mereka (lembaga2 internasional) juga harus bertanggungjawab atas langgengnya korupsi di Indonesia. Imposible, kalo mereka tidak tahu ttg hal itu.
Jadi ingat bukunya Confession of Economic Hit Man. Buku itu lumayan seru (tapi jangan percaya 100 persen). Sekedar buat pengetahuan saja.
Buat Kepala Perwakilan Bank Dunia di Indonesia,
Selamat jalan Andrew Steer, Enyahlah dari Indonesia!

Semoga kemalasan mengerjakan skripsi cepat hilang,…

Tahun pertama kuliah

February 28th, 2007 by arip-muttaqien

 Aku baru saja melihat foto-foto
angkatanku. Angkatan 2003 sudah semester delapan. Ga’ terasa sedemikian cepat
berlalu. Entah mengapa aku merasa dalam waktu bbrp bulan kedepan memang kita
akan berpisah. Ya, bahkan dalam semester ini kita sudah mulai berpisah. Dari
mata kuliah yang ada, tidak ada mata kuliah wajib. Artinya, tidak ada lagi
kelas bersama. Tidak ada lagi kelas besar.

 Aku masih ingat waktu tahun pertama.
Aku dan temen2 seangkatan bertemu bersama di Balairung UI habis latihan nyanyi.
Waktu itu kami difasilitasi IMTI. Ketuanya waktu itu Sik (angkatan 2001).

 Singkat kata, perjalanan waktu
selama lebih dari tiga setengah tahunlah yang memberikan berbagai pengalaman
keceriaan dan kegetiran. Namun aku merasa itulah bumbu kehidupan.

 Aku masih ingat dengan temen2
seangkatan. Orang yang pertama aku kenal adalah Chaerul. Tapi ga’ tahu kemana
kabarnya sekarang. Tahun kedua kuliah dia menghilang. Kemudian, aku masih ingat
dengan kelompok Praktikum Fisika Dasar, yaitu Desi, Dindun, Aris, Audi, Akbar,
Luthfi dan Bagas. Aku masih ingat selama dua semester kita menghabiskan waktu
untuk praktikum di MIPA dengan bbrp kekonyolan. Masih ingat juga waktu tiap
malam kamis (praktikum Fisika Dasar hari kamis), kita seangkatan sering
ngerjain dengan sistem kebut semalam (SKS), bahkan sistem kebut sejam (SKS)
alias baru mengerjakan satu jam menjelang praktikum. Pernah juga ada temen2
yang ga’ boleh masuk sama asisten karena telat.

 Ada juga kelompok mata kuliah Dasar
Komputer. Yang ini aku tidak ingat siapa saja semuanya. Yang pasti beberapa
dari TI’03 dan ada satu-satunya angkatan 2000 (Jajang). Dia nyuci mata kuliah
Dasar Komputer. Aku dan temen2 juga begadang ngerjain laporan. Aku masih ingat,
waktu malam2 ngerjain di kamar Royan dan aku lupa blom save hasil ketikannya.
Ternyata tiba2 komputer mati. Ya…berakhir sudah usaha selama bbrp jam ngetik.
Akhirnya besoknya Royan ngetik laporan itu. Sampe skrg aku jaid ga’ enak kalo
ingat sama kejadian itu.

 Lalu ada lagi mata kuliah Menggambar
Teknik. Ini yang paling jago adalah Edwin. Aku dan temen2 asrama sering
ngerjain bareng ke kamar Edwin. Angkatan 2003 yang ada di asrama waktu itu
adalah aku, Edwin, Royan, Fahmi, AW dan Kenny. Yang cewek adalah Chichi, Nia,
Niken dan Kiki (Kiki keluar duluan dari asrama dan pindah ke Pocin).

 Mata kuliah yang berat adalah
Aljabar Linier 1. Dosennya dari MIPA, bikin ngantuk. Waktu itu aku hampir saja
nyaris tidak lulus karena UTS dapat nilai 36. Akhirnya untuk UAS aku belajar
keras. Begitu keluar, hasilnya aku dapat B. Ga’ habis pikir, bagaimana bisa.
Berarti untuk UAS, aku dapat hasilnya bagus banget. Waktu UAS memang aku
mengerjakan dengan benar semuanya.

 Mata kuliah Matematika Dasar (Matdas)
1 memang cuma mengulang pelajaran matematika di SMA. Jadinya ga’ terlalu sulit.
Terus ada mata kuliah Statistik Industri (Statin) 1 yang diajar Bu Bet. Lalu
ada mata kuliah Kimia Dasar. Pengajarnya dari jurusan Teknik Kimia (waktu itu
namanya Teknik Gas dan Petrokimia/TGP).

 Satu-satunya mata kuliah yang berbau
teknik industri adalah Pengantar Teknik Industri. Yang ngajar Pak Yuri.

 Memasuki semester dua, ada mata
kuliah Proses Produksi 1. Yang ngajar dosen mesin. Udah tua. Aku selalu ngantuk
waktu di kelas. Kemudian ada mata kuliah Mekanika Teknik. Yang ini enak
dosennya kalo ngajar. Dan karena bahan kuliahnya banyak yang berhubungan dengan
fisika dan hanya mengulang waktu di SMA, akhirnya aku dapat A untuk mata kuliah
ini. Mata kuliah Pengetahuan Bahan, yang ngajat Pak Bus dari metalurgi. Dia
mantan Ketua BPM (skrg MPM FTUI). Kata banyak orang sich, dia yang bikin yel
teknik (Teknik…yahud…hohihohaha…teknik paling jaya…hohihohaha…teknik
paling gaya).

 Mata kuliah Statin 2 yang ngajar Bu
Isti. Lumayan ribet dan pusing juga.
Untuk Matematika Dasar (Matdas) 2, lebih susah dari Matdas 1. Yang ngajar
orangnya sama, dari MIPA. Mata kuliah Aljabar Linier (Alin) 2 yang ngajar lebih
enak. Anak2 sering panggil dg nama ‘Peter John’. Terus ada mata kuliah Fisika
Panas. Dosennya kocak dan jayus. Mata kuliah Fisika Gelombang dan Optik. Yang
ini dosennya ga’ enak. Bikin ngantuk.

 Praktikum Fisika Dasar, waktu itu
aku pernah mau berantem sama asisten gara2 masalah laporan. Aku ngotot bahwa
metodeku benar dan dia ngotot bahwa metodenya yang paling benar. Alhasil, untuk
praktikum fisika semester 2 aku dapat nilai B, padahal semester sebelumnya aku
dapat nilai A.

 Semester dua ini, ada bbrp mata
kuliah yang menggunakan sistem kelompok, yaitu Pengetahuan Bahan, Statistik
Industri 2 dan Praktikum Fisika Dasar 2. Buat mata kuliah Pengetahuan Bahan,
kelompoknya banyak yang lupa. Terus Statin 2, kelompokku adalah AW, Willy dan
Fadli. Praktikum Fisdas 2 sama dengan kelompok yang semester 1.

 Kapan2 akan dilanjutin di posting
yang selanjutnya……………